Rabu, 21 Juni 2017

Rojani

Rojani sebentar lagi pergi,

Ia pergi ketika orang2 bergegas,
saling mengunjungi dan berbasa-basi.

Ketika orang2 ribut berkata maaf, untuk kemudian khilaf lagi.

Ketika orang2 berebut pakaian, yang sebenarnya tak mereka perlukan.

Ketika orang2 ramai mengumbar air mata, merasa diri paling berdosa.

Ketika orang2 banyak mengada-ada, yang nyatanya tak pernah ada.

Rojani tetap harus pergi, tak peduli.
Orang2 pun tak peduli Rojani pergi.

Mereka semakin tenggelam menghias diri.
Pikirnya, memakai segala macam hiasan yang baru dibeli adalah kembali ke fitri.

Tidak ada yang bertanya ke mana Rojani pergi.
Ia pergi sendiri tanpa ada yang tahu apa bisa bertemu kembali.

Saatnya Rojani undur diri. Dan,
tak ada yang lebih sepi dari Rojani... Romadon di Bulan Juni.

Candra 22062017

Rabu, 24 Mei 2017

Sastra Momotoran

Suatu malam di Kedai Preanger, saya dan beberapa kawan membunuh waktu dengan membicarakan "Apa sih sebenarnya sastra itu?" Tidak lama kami membicarakan itu lalu diakhiri dengan keheningan, kemudian pulang dengan membawa jawaban bahwa sastra adalah seni berbahasa. Jawaban tersebut tidak salah, karena bahasa adalah salah satu unsur utama sastra untuk mewujudkan ungkapan pribadi dalam suatu bentuk yang indah melalui kata-kata. Lalu apa syarat sesuatu layak disebut indah? Apa keindahan itu? Skip.

Jika ada yang dapat membuat batasan tentang apa yang disebut sastra, maka batasan tersebut hanya gambaran dari salah satu segi sastra saja, salah satunya sastra adalah seni bahasa seperti yang diungkap sebelumnya. Sulit memang, salah satunya karena sebuah batasan sastra sulit menjangkau hakikat dari semua jenis bentuk sastra. Misalnya, suatu batasan dapat berlaku untuk bentuk esai, tetapi tidak tepat untuk bentuk cerpen, dst. Ditambah lagi, apa yang disebut sastra itu tergantung pada tempat dan waktu, maka sulit juga untuk membuat suatu batasan yang hakikatnya bersifat universal dan abadi. Juga jangan lupakan bahwa sastra tidak hanya berhenti pada deskripsi, tetapi juga suatu usaha penilaian. Nah lieur, euy. Jadi naon sastra teh? Skip.

Daripada pusing-pusing memikirkan batasan sastra yang universal dan abadi, saya lebih memilih asyik membaca catatan perjalanan kawan-kawan Komunitas Aleut mengenai pengalamannya masing-masing ketika momotoran.

Memang, akhir-akhir ini Komunitas Aleut kerap melakukan perjalanan dengan rute yang terlalu jauh untuk dilewati dengan berjalan kaki. Mengingat kuda sudah bukan lagi sarana transportasi populer, juga mobil yang terlalu kaku dan bongsor jika harus melewati jalanan berbatu dan lebarnya hanya sedepa, maka sepeda motor menjadi kendaraan pilihan pemirsa. Dari pengalaman momotoran tersebut, kawan-kawan Komunitas Aleut lantas menuliskannya.

Beberapa tulisan pengalaman momotoran tersebut termasuk ke dalam sastra non-fiksi. Kadar faktanya menonjol, tetapi masih disertai oleh daya imajinasi atau sebut saja interpretasi, yang memang menjadi ciri khas karya sastra. Tulisan-tulisan tersebut menggambarkan fakta yang betul-betul ada dan terjadi sepanjang momotoran, dengan tafsiran pribadi yang bebas. Jadi, meskipun ada tiga penulis menuliskan fakta yang sama, mereka akan melahirkan karya sastra yang berbeda-beda. 

Dari tulisan-tulisan pengalaman momotoran tersebut, berikut adalah hal-hal yang memenuhi syarat sebagai karya sastra yang bermutu, yang lahir dari kegiatan momotoran yang bermutu pula. 


1. Sastra (momotoran) adalah komunikasi

Ketika momotoran, rombongan akan tercerai-berai jika tidak ada jalinan komunikasi. Memerhatikan teman yang berada di depan sekaligus memastikan teman di belakang tetap berada dalam iring-iringan, dan memberitahu teman lain bila ada yang tertinggal atau tertimpa masalah adalah bentuk komunikasi yang harus tetap terjaga. Klakson dua kali adalah bentuk komunikasi antara kawan yang satu dengan kawan yang lain ketika momotoran, yang telah disepakati bahwa setiap kawan harus berhenti untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Begitu juga dengan catatan pengalaman momotoran, sebagai bentuk rekaman harus dapat dikomunikasikan kepada orang lain dengan menggunakan kata-kata sehari-hari yang mudah dipahami. Sebuah karya sastra bermutu tidak hanya dapat berkomunikasi dengan pembaca yang terbatas, tetapi juga dapat berkomunikasi dengan pembaca yang banyak. 


2. Sastra (momotoran) adalah sebuah keteraturan. 

Sweeper, leader dan sebagainya adalah usaha agar keteraturan tetap terjaga. Tidak saling mendahului atau kebut-kebutan dan tetap berada dalam iring-iringan untuk kebaikan bersama.

Begitu pun dengan karya sastra. Sebuah karya sastra yang baik memiliki peraturan sendiri dalam dirinya. Sebagai bentuk, sastra harus mempunyai pola. Meskipun nampaknya memang ada karya sastra yang bentuknya tidak teratur, tetapi kalau ditilik lebih jauh ternyata ia memiliki sistemnya sendiri yang berbeda atau modifikasi dari pola bentuk yang sudah ada.


3. Sastra (momotoran) adalah penghiburan

Berat rasanya jika momotoran tidak bernuansa hiburan. Kondisi jalan yang buruk, cuaca yang berubah-ubah, stamina yang terkuras hendaknya luntur oleh sebuah kesenangan atau hiburan. Menciptakan situasi yang menyenangkan adalah kunci untuk mengurangi kejenuhan dan meredam bangkitnya rasa ingin cepat pulang.

Begitu pun dengan catatan pengalaman momotoran, unsur hiburan membuat pembaca larut di dalamnya, tidak membosankan, dan pembaca tidak merasa dipaksa membaca. Unsur hiburan tidak hanya sebagai salah satu cara 'pelarian' yang bersifat sementara,  bukan mustahil akan membangkitkan rasa keingintahuan dan keterlibatan yang lebih jauh dengan apa yang dibacanya.


4. Sastra (momotoran) adalah penemuan

Momotoran bersama Komunitas Aleut tidak hanya melakukan kegiatan napak tilas, tetapi juga menemukan. Beberapa tempat yang tersembunyi didatangi, cerita yang terkubur kembali digali. 

Begitu pun dengan catatan pengalaman momotoran sebagai karya sastra. Penemuan dalam karya sastra dapat meliputi semua unsur karya sastra tersebut, atau juga hanya beberapa unsurnya. Jika memang tidak ada yang baru dalam suatu karya sastra, setidaknya proses menemukan kebaruan adalah suatu hal yang baru bagi yang mencobanya.


5. Sastra (momotoran) penafsiran kehidupan

Momotoran yang bermakna. Setiap tempat yang didatangi dimaknai oleh kawan-kawan momotoran Komunitas Aleut. Momotoran yang tidak hanya menghabiskan bensin dan menipiskan kampas rem belaka, tetapi ada tafsiran kehidupan di sana, kehidupan masa lalu dan sekarang.

Begitu pun dengan catatan pengalaman momotoran sebagai karya sastra. Pengalaman selama momotoran ditinjau kembali dan diberi makna, agar pembacanya kelak dapat kembali ke kehidupan sehari-hari dengan pandangan baru terhadap kehidupan.

Demikian beberapa hal yang bisa saya tangkap dari beberapa catatan pengalaman momotoran Komunitas Aleut. Memang terkesan disambung-sambungkan, tetapi ini adalah jawaban yang utuh dari jiwa manusia ketika kesadarannya bersentuhan dengan kenyataan. Sastra merupakan pengalaman, apapun bentuknya termasuk momotoran.

Akhir paragraf, jika dalam teori sastra terdapat sastra non-fiksi yang disebut catatan harian, maka ijinkan kami membuat genre baru di dunia sastra, sebut saja Sastra Momotoran! [Can]





Kamis, 11 Mei 2017

BURNOUT



Namaku Aisya. Nama perempuan. Sekali lagi kutegaskan pada kalian, nama perempuan. Karena aku memang perempuan. Sekali lagi kutegaskan pada kalian, aku perempuan.

Dulu, ayah dan ibuku sering membelikan boneka barbie untukku, bukan mobil-mobilan atau pedang-pedangan. Aku dibesarkan dan diperlakukan seperti layaknya anak perempuan oleh mereka. Namun, aku merasa apa yang mereka lakukan itu sia-sia, toh kenyataannya aku menjadi seperti ini. Entahlah, aku pun tak mengerti mengapa aku bisa menjadi seperti ini. Seperti tidak diharapkan keberadaannya, aku merasa tidak seperti sosok perempuan yang ada di benak orang kebanyakan. Aku merasa berbeda, dan perbedaan itu aku anggap salah.

Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa karena aku yang seperti ini. Tuhan? Orang tua? Teman satu sekolah? Guru? Tetangga? Atau aku sendiri? Semua yang aku sebutkan itu bisa sangat bersalah atas apa yang menimpa diriku saat ini, tetapi di saat yang lain bisa jadi tidak.

Aku melihat orang-orang di sekelilingku memandangku dengan penuh rasa jijik, benci, kotor, dan berbeda. Aku merasa dijauhi teman-temanku di sekolah, mereka tak mau bergaul denganku. Ingin rasanya membawa senapan mesin dan memberondong mereka dengan peluru-peluru dendamku, tepat di saat mereka tertawa gembira sepulang sekolah. Peluru-peluru yang akan merobek-robek mulut mereka yang sedang tertawa, menertawakanku. Peluru-peluru yang akan menghancurkan mulut mereka yang sedang berbisik, berbicara jelek tentangku. Cih! Lihat saja nanti.

Selama ini aku berusaha untuk bergaul baik-baik dengan mereka. Namun, mengapa mereka tetap saja tidak mau dekat-dekat denganku. Apalagi, anak-anak populer itu! Berjalan sombong sibuk membalas sapa orang-orang yang berpapasan dengan mereka. Menyandang benda-benda tak penting agar terlihat mengikuti perkembangan jaman, berkumpul hanya dengan orang-orang pilihan, merasa paling cantik, paling gaul, paling kaya. Busuk semua! Aku merasa tidak cocok berada di sekolah ini, ingin rasanya pergi menyepi dan mengutuki hidup sendiri. Itu sepertinya lebih baik.

Siska, Maria, Selvi, David dan Joni. Nama-nama yang ada di daftar teratas, daftar orang-orang yang akan kutembak hari ini. Siska, Maria, Selvi, David dan Joni, aku tulis nama kalian di atas kertas merah semerah darah, dengan tinta hitam sehitam dendam. 

Aku menuliskan nama Siska, Maria, Selvi, David dan Joni sebagai sasaran utama, bukan tanpa alasan. Merekalah yang bersalah menjadikanku seperti sekarang ini, merekalah yang turut andil membuatku semakin merasa berbeda, aneh, dan meninggalkanku sendirian. Siska, Maria, Selvi, David dan Joni, catat itu!

Pistol ada dalam genggaman, meski bukan senapan mesin seperti yang direncanakan. Pistol berisi lima peluru, cocok sekali. Pas untuk lima orang yang paling kubenci; Siska, Maria, Selvi, David dan Joni. Aku berdiri menghadap cermin, pistol itu aku acungkan, lalu kutodongkan ke arah cermin layaknya koboy yang akan memberantas Indian.

Lewat pantulan cermin, dengan jelas aku melihat bayangan diriku. Sepasang mata yang penuh kebencian, buru nafas yang penuh dendam, gemeretak gigi yang tak mengenal rasa kasihan. Semua itu menyatu dengan kegelapan dan kesepian, menjadikan kemarahan yang tak akan bisa dikendalikan. Aku jejalkan pistol berisi lima peluru itu ke dalam tas ranselku. Aku siap berangkat ke sekolah, aku siap menuntaskan dendamku kepada Siska, Maria, Selvi, David dan Joni. Tunggu saja!

Aku berusaha bertingkah seperti biasa, pamit kepada ibuku yang sedang memasak di dapur. 

"Jangan lupa, nanti siang langsung pulang ke rumah, ya! Hari ini hari ulang tahun ayahmu, kita nengok sebentar ke sana, sekalian nyekar."

Aku mengiyakan, lalu pergi agak tergesa meninggalkan rumah.

*

Di tengah perjalanan, di dalam angkot dengan bau aneh yang menyeruak, hatiku terus menyebut-nyebut nama Siska, Maria, Selvi, David dan Joni. Sesekali aku membuka ranselku, memeriksa apakah pistol masih aman berada di tempatnya atau tidak. Aku mendadak berkeringat,  hati semakin lama semakin tak tenang. Angkot terus melaju menuju sekolah, jantungku semakin gencar berdegup tak karuan. Aku terus berusaha mengatur napas untuk menenangkan diri, meski tak sepenuhnya berhasil.

Angkot tersendat lajunya, macet di persimpangan. Namun, tak lantas kegelisahanku berkurang. Aku melepas pandangan ke luar jendela, terasa kesibukan pagi hari menerpa wajahku. Sepeda motor berpacu saling mendahului, mobil-mobil bergantian merangsek maju, semua tampak tak ingin terlambat. Lalu, pandanganku terpaku pada seorang anak kecil yang digendong ayahnya. Anak itu berseragam putih-merah, lengkap dengan dasi dan topi yang agak longgar. Anak itu tertidur di gendongan bapaknya, yang akan mengantarnya ke sekolah. 

Melihat pemandangan sederhana itu, seketika aku teringat ayahku. Ayahku yang juga meninggalkanku sendiri, tanpa pamit. Dengan paksaan. Tuhan yang memaksa. Hari ini hari ulang tahunnya, dan nanti siang, sepulang sekolah, aku terpaksa mengucapkan selamat kepadanya. Bukan di restoran, bukan di rumah, tetapi di hadapan makamnya.

Tiba-tiba lamunanku terpecah. Dikejutkan oleh sebelah tangan yang tersodor ke hadapanku. Tangan kurus dengan urat-uratnya yang menonjol terbungkus oleh kulit berwarna gosong terbakar matahari. Seorang bapak tua, tersenyum kepadaku, sedikit menganggukkan kepalanya tanda mempersilakan. Ia mempersilakanku mengambil pamflet yang ia sodorkan. Hmm, pamflet. Kalau bukan pamflet kredit motor ya pasti pamflet obat alami penyembuh segala macam penyakit. Aku sekilas membaca judul pamflet itu. 

"KLINIK TONG CONG, KLINIK UNTUK ORANG-ORANG KESEPIAN"

Aku terheran-heran. Lalu tambah heran ketika membaca kelanjutannya.

"Mengobati: rasa kesepian, marah, dendam, benci, cemburu, rendah diri, dan penyakit lain yang tidak disukai manusia lainnya."

Hah? Keanehan tidak berhenti sampai di situ, klinik itu pun beralamat tidak jauh dari sekolahku. Aneh. Aku sejenak berhenti memelototi pamflet itu, lalu menoleh ke arah bapak tua. Ternyata bapak tua itu sudah tak tampak lagi. Menghilang begitu saja, ditelan kemacetan jalanan.

*

Benar saja, klinik itu kini ada di hadapanku. KLINIK TONG CONG, nama yang tidak menjual sama sekali. Mengapa aku tidak menyadari ada klinik ini. Klinik aneh, cocok untuk orang-orang aneh sepertiku. Aneh? Tidak. Aku tidak aneh. Siska, Maria, Selvi, David dan Joni yang menganggapku aneh. Dan aku tidak lupa rencanaku hari ini, menembak mereka di sekolah.

Namun, rencanaku agak berubah sedikit. Gara-gara klinik ini. Aku penasaran dengan klinik ini. Hanya penasaran, bukan mau berobat. Aku tidak sakit, jika memang aku sakit, Siska, Maria, Selvi, David dan Joni yang telah menyakitiku. Biarlah aku melewati jam pelajaran pertama di kelas gara-gara menyambangi klinik ini, nanti aku akan menembak Siska, Maria, Selvi, David dan Joni ketika jam istirahat. Ketika mereka berkumpul di satu meja khusus di kantin. Meja khusus yang  hanya boleh ditempati mereka, yang lain tidak boleh menempati, begitu aturannya. Tidak ada yang membuat aturan itu, aturan itu ada begitu saja. Jadi, aku akan menembak mereka dengan peluru-peluru dendamku yang berjumlah lima, nyaris bersamaan. Dimulai dari Siska, Maria, Selvi, David lalu Joni. Menembaki mereka ketika sedang berkumpul akan terasa lebih mudah daripada harus mendatangi mereka satu per satu di kelasnya masing-masing. 

Setelah memantapkan diri, aku mendorong pintu masuk ke klinik aneh ini. Meja resepsionis menghadang pandangan di depan. Di sebelah kanannya tampak deretan bangku kayu, seperti ruang tunggu untuk orang yang ingin berobat. Tak jauh dari deretan bangku tunggu itu terpasang sebuah televisi menghadap ke arah orang-orang yang sedang menunggu, tetapi televisi itu mati, tidak sedang menayangkan siaran apapun. Entah rusak atau memang sengaja tidak dinyalakan. 

Aku langsung berjalan lambat ke arah deretan bangku tunggu, melewati meja resepsionis yang tidak berpetugas. Ada beberapa orang yang sedang duduk di bangku itu. Sepagi ini sudah lumayan banyak pasien, klinik ini cukup terkenal juga, pikirku.

 Aku memutuskan duduk di deretan bangku paling belakang. Satu, dua, tiga, empat, lima. Lima orang pasien sedang duduk berderet di deretan paling depan. Lima. Lima orang! Sebelum aku yakin dengan apa yang aku lihat, kelima orang yang memunggungiku itu menoleh bersamaan ke arahku. Ya, itu mereka. Siska, Maria, Selvi, David dan Joni menatap ke arahku dengan tatapan kosong, tatapan yang tidak seperti biasanya.

Aku terhenyak, terkejut penuh kebingungan. Untuk apa mereka ada di sini? Di klinik aneh ini? Di klinik untuk orang-orang kesepian? Di klinik untuk orang-orang sakit! Mereka tidak layak ada di sini, mereka terlalu bahagia untuk berada di sini! Mereka terlalu sombong untuk berada di sini! Mereka terlalu pemilih untuk berada di sini! Mereka itu manusia yang terlalu... Manusia? Ya mereka manusia. Sama sepertiku. Tapi apa yang terjadi dengan mereka? Apakah mereka merasa berbeda sepertiku? Apa mereka pernah ditinggalkan sepertiku? Apa mereka pernah merasakan sakit sepertiku? Apa mereka pernah merasa dikucilkan sepertiku? Tidak mungkin! Lalu untuk apa mereka duduk di sini?

Siska, Maria, Selvi, David dan Joni nama-nama yang aku benci terus memandang ke arahku dengan tatapan kosong yang tak biasa. Mataku tak lepas dari mereka. Sejenak aku menoleh ke arah layar televisi yang hitam, memantulkan bayangan diriku yang menyembung. Tak terlihat dengan jelas sepasang mata yang penuh dendam, terhalang air mata berbulir kebingungan. 

Rencana tetap harus dinyatakan. Tanganku menelusup ke dalam ransel, menggapai pistol berpeluru lima. Aku keluarkan pistol itu lalu mengarahkannya kepada mereka. Siska, Maria, Selvi, David dan Joni, tidak terkejut dengan kehadiran pistol tertodong di depan mereka. Mereka masih dengan kekosongan masing-masing. Aku menarik pelatuk pistol dengan agak gemetar, aku teringat ibu yang sedang memasak di dapur, aku teringat hari ini hari ulang tahun ayah, aku teringat anak kecil yang ketiduran di gendongan bapaknya. Namun, rencana tetap harus dinyatakan. Trek!

Trek! Trek! Trek! Trek! Pistol itu tidak berpeluru. Ke mana perginya peluru-peluru itu? Aku lunglai.

"Siska, Maria, Selvi, David, Joni!" Petugas klinik memanggil nama-nama itu, mengajak masuk ke dalam ruangan periksa. [can]































Kamis, 27 April 2017

Hama Homini Lupus

Aku dianggap merugikan. Mengacaukan ekosistem, merusak habitat, sehingga membuat kesal para petani, peternak dan  manusia-manusia lainnya. Ketika gagal panen, atau ketika mereka menderita penyakit, mereka kerap menyalahkan spesiesku, spesies yang tentu saja di dalamnya ada keluargaku, saudara-saudaraku, dan kawan-kawanku. Kami dicap sebagai pembuat ulah, tapi kami tidak hiraukan apa kata pihak yang merasa dirugikan, kami hanya menjalani takdir kami, sebagai kutu.

Aku tak pernah meminta hidup sebagai kutu, bahkan mau dilahirkan atau tidak aku tidak diberi kesempatan untuk memilih. Apa boleh buat, ini takdir yang tak bisa dihindari, aku harus menjalani hidup di dunia yang serba benar ini. Dunia yang tak seorang pun tahu dengan pasti untuk apa ia dilahirkan, dan untuk apa ia mati. Dunia yang tak pernah punya jawaban pasti dari setiap pertanyaan yang muncul di kepala, lantas dibungkamnya segala pertanyaan itu dengan satu kata saja: cinta.

Aku lahir saat musim pancaroba di tahun tungau emas. Entah aku anak ke berapa, aku lahir nyaris bersamaan dengan kakak-adikku yang jumlahnya ratusan. Saking banyaknya, ayahku sampai lupa yang mana anak sulungnya, anak-anak tengahnya dan yang mana anak bungsunya. Meski begitu, ayahku adalah kutu penyayang, beliau memanggil semua anak-anaknya dengan sebutan 'sayang', entah karena beliau memang sayang atau memang lupa nama anaknya sendiri. Begitulah.

Para pembaca yang budiman, baik itu hama atau bukan, aku sampai lupa memperkenalkan diriku. Namaku Q, itu saja, tanpa nama keluarga atau nama tengah. Jangan heran, di dunia kutu nama hanyalah soal agar tidak bingung ketika memanggil, berguna ketika harus mencantumkan nama di formulir-formulir, tak terbesit sama sekali bahwa nama haruslah sebuah doa dan harapan orang tua bagi anak-anaknya. Tak terpikir sama sekali, nama haruslah mencomot nama nabi, nama pahlawan, atau nama sekutu jenius. Nama ya sekadar nama, identitas, tidak harus dibagus-baguskan apalagi diekslusifkan. 

Aku kutu lulusan Universitas Negeri Hama, baru saja lulus, dua minggu yang lalu diwisuda. Aku mengambil jurusan manajemen bisnis, bukan mauku, tetapi ayahku yang bersikeras menyuruhku mengambil jurusan ini. Beliau berharap aku akan bekerja kantoran, duduk di kursi empuk dan ruangan sejuk berpendingin udara, sambil sesekali menandatangani berkas-berkas yang disodorkan oleh sekutu sekretaris seksi. Pada kenyataannya, kutu-kutu, baik itu kutu tak bersekolah atau kutu sarjana, bertahan hidup hanya dengan menghisap darah inangnya. Seperti halnya saudara-saudaraku yang lain, yang mereka tahu hanya menghisap darah dan membuat anak, hanya sibuk dengan urusan perut dan kelamin, tak ada yang lain. 

Lalu, untuk apa aku bersekolah di Universitas Negeri Hama yang terkenal itu? Toh, pada akhirnya setelah mendapat gelar sarjana aku akan tetap seperti kutu-kutu yang lain, menghabiskan sisa hidup di sela-sela rambut kepala atau kelamin. Entahlah, keinginanku untuk menjadi kutu yang berbeda sepertinya dianggap menyalahi kodrat oleh kutu-kutu yang lain. Ya, aku sebagai kutu pun punya keinginan, keinginan yang semakin menggebu dari hari ke hari. Keinginan yang malu untuk sekadar ku katakan pada teman-temanku yang tak punya pilihan hidup untuk dijalani. Aku ingin, sangat ingin menjadi bintang film.

Karena itulah aku berada di sini sekarang. Di dalam gerbong kereta, menuliskan kisahku sambil sesekali melihat pemandangan melalui kaca jendela. Para pembaca baik hama atau bukan, mungkin bertanya-tanya, bagaimana kutu sekecil diriku bisa sampai di kereta ini. Ya, kami para kutu dianugerahi kemampuan meloncat, kami dapat meloncat jauh beratus-ratus kali lipat dari panjang tubuh kami. Kami berpindah-pindah dari tubuh yang satu ke tubuh yang lain. Bisa tubuh anjing, kucing, atau manusia. Makhluk-makhluk berambut itulah yang menyediakan makanan, tempat tidur, sekaligus kendaraan bagi kami untuk melakukan perjalanan yang terlalu jauh untuk diloncati. 

Setiap hinggap di makhluk berambut atau yang kami sebut inang, ada aturan tertentu yang harus kami lakukan. Kami harus melapor kepada petugas kutu yang biasa kami sebut opsir, mereka bertugas memeriksa para kutu pendatang yang hanya sekadar transit atau ingin tinggal di inang baru. Peraturan yang diterapkan opsir pun berbeda di setiap inang, tapi sederhana: semakin kotor inang, semakin banyak kutu yang boleh tinggal, bahkan bisa sampai tak dibatasi. Peraturan ini berlaku bagi para kutu di seluruh dunia, di bawah pengawasan kerajaan hama.

Begitulah, setelah hinggap di beberapa inang untuk sekadar transit, dan bertanya pada opsir, inang mana saja yang harus aku hinggapi agar sampai stasiun kereta, akhirnya aku sampai juga di stasiun ini. Menaiki kereta yang benar pun bukan perkara mudah. Beruntung aku pernah mengambil mata kuliah bahasa manusia. Jadi, aku membaca setiap papan informasi yang kebetulan aku lewati, lalu hinggap di petugas tiket, lalu hinggap lagi pada manusia yang membeli tiket jurusan ibu kota. Melelahkan memang, aku lelah menjadi kutu.

Kelelahan ini gara-gara keinginanku. Keinginanku gara-gara salah satu pamanku. Dia yang selalu pamer bahwa dirinya pernah menjadi bintang film. Dia yang selalu menceritakan kisah yang sama berulang-ulang, bahwa dirinya adalah kutu yang pernah hinggap lama di tubuh Lassie, anjing pintar yang menjadi tokoh utama serial televisi. Aku begitu saja mempercayainya, sampai kemudian aku tahu dia berbohong. Karena ia pun mengaku pernah hinggap di tubuh Keiko dan Bruce, yang nyatanya adalah seekor ikan hiu di film Jaws dan paus pembunuh di film Freewilly. Tapi kebohongan pamanku bukannya menyurutkan keinginanku. Justru aku ingin hidup tidak hanya melulu menjadi makhluk yang dianggap tak berguna, aku bosan dianggap hama. Apa boleh buat aku harus keluar dari kodratku, sekali lagi aku nyatakan aku ingin menjadi kutu pertama yang menjadi bintang film!

Sial. Untuk kesekian kalinya inangku ini menganggu kenikmatanku melihat pemandangan di luar kereta. Manusia ini, seringkali bolak-balik toilet. Seorang pria yang sudah tak lagi muda, kumisnya sudah menyatu dengan janggutnya dan jambangnya. Aku bisa dengan jelas melihat pantulan wajahnya di cermin toilet. Pakaiannya serba putih, beberapa jarinya dihiasi dengan batu akik, tangan kanannya terlihat selalu memegang benda seperti kalung dari biji-bijian berwarna hitam, jari-jari tangan kanannya senantiasa bergerak menghitung setiap biji kalung itu, terus menghitung tanpa henti berulang-ulang. Manusia aneh.

**

Kau menyimpan buku catatanmu, lantas kembali termangu melihat pemandangan di luar kereta. Inangmu, seorang manusia, kini sudah lelap dalam tidurnya. Sesekali ia menggaruk kepalanya, ketika kau menghisap darahnya karena kehausan.

Kau merasakan kereta berhenti lajunya. Tak lama kemudian, inangmu terbangun lalu beranjak dari kursinya, mengambil barang bawaannya lalu bergegas turun dari kereta. 

Inangmu, seorang manusia, berada di halaman stasiun, lalu berbicara lewat telepon genggamnya. "Saya sudah sampai. Saya langsung menuju ke lokasi. Bayinya aman. Siap dilahirkan." Bayi? Kau bertanya sendiri.

Kau melihat inangmu, seorang manusia, membuang telepon genggamnya ke tempat sampah setelah selesai berbicara. Kau masih terdiam, tidak punya rencana untuk meloncat, karena kau memang belum tahu harus kemana.

Inangmu, seorang manusia, meneruskan langkahnya. Kau melihat banyak manusia-manusia di sekelilingmu. Ramai. Mereka terlihat gembira, saling berpelukan, bertukar hadiah, bertukar salam, tentu dengan banyak senyuman. 

Inangmu, seorang manusia, menghentikan langkahnya di tempat manusia-manusia gembira itu berada. Membungkuk seperti akan mengambil sesuatu dalam tasnya. Sebelum sempat kau ketahui apa isi tas itu, inangmu, seorang manusia berteriak menyebut nama Tuhan, diikuti suara ledakan yang keluar dari dalam tas itu.

Manusia-manusia gembira berteriak histeris. Sementara itu, inangmu, seorang manusia, terpental entah kemana. Terpental bersama kutu-kutu lain yang ribuan jumlahnya, lebih banyak dari yang kau bayangkan. Kau sejenak lupa cita-citamu menjadi pemain film, kau justru malah ingat peraturan sederhana di dunia kutu: semakin kotor inang, semakin banyak kutu yang boleh tinggal. Mungkin, inilah peran pertama yang harus kau mainkan. [Can]

Ujian Nasib Onal

Onal masih belum mengerti. Menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap jawaban dari pertanyaannya ada di kanan atau di kiri, tapi ia tak juga menemukannya. Saat menoleh ke kanan dan ke kiri, ia hanya melihat sepasang malaikat sedang serius mencatat dan mencatat. Entah apa yang mereka catat. Mereka sama sekali tak mempedulikan Onal yang kebingungan, mereka mencatat dan terus mencatat. Kertas yang mereka gunakan untuk mencatat, tampak tak ada habisnya.

Onal kembali menundukkan wajahnya, tak lagi berharap menemukan jawaban dari pertanyaannya ada di kanan atau di kiri. Tapi, ia belum mencoba area di depan dan di belakangnya. Inilah saatnya.

Onal sedikit memanjangkan lehernya, memicingkan matanya ke satu titik di depannya. Ia terus berusaha memanjangkan lehernya, sampai urat-urat leher menyembul di balik kulitnya yang berdaki. Tiba-tiba ia menurunkan lehernya sambil menghembuskan nafas kecewanya. Tak ada jawaban yang dicarinya di depan, bahkan sekadar petunjuk pun tak ada.

Bagian belakang?
Siapa tau jawaban itu ada di belakang?

Onal tersenyum. Ia teringat perkataan Bu Ai, guru sejarahnya.

"Seperti naik motor atau mobil, kita harus melirik spion kadang-kadang, tapi pandangan tetap lurus ke depan, biar kita selamat sampai tujuan di depan sana. Itulah gunanya belajar sejarah."

Senyum Onal semakin mengembang, berubah menjadi senyum tiga jari. Wejangan dari guru sejarahnya itulah yang membuat dadanya berdesir, ringan, dan semakin optimis. Segera saja ia menoleh ke belakang masih dengan senyumnya, senyum tiga jari.

Ya ampun, benar saja, banyak jawaban di belakangnya. Mata Onal berbinar-binar, senyumnya semakin mengembang dari tiga jari menjadi lima jari.

"Bu Ai memang benar, ia guru favoritku."

Namun, raut wajah Onal seketika berubah. Ia tiba-tiba merenggut, senyum lima jarinya berubah jadi cemberut. Matanya berputar-putar, menelusuri tidak hanya satu jawaban, tapi puluhan bahkan ratusan jawaban di tembok bercat abu-abu yang kini ada di hadapannya.

"Aceng Love Lilis"
"Punk Not Dead"
"Persib Nu Aink"
"No Love Just Sex"
"Tai"
"Dilarang Corat-Coret Di Sini!"
"Maneh Corat-Coret!"
"BAE"
"Udah-Udah Jangan Berantem"
"WADUK"
 Dan seterusnya, dan seterusnya.

Banyak yang tertulis di tembok bercat abu-abu tepat di belakang Onal duduk. Ia tak sanggup membacanya satu per satu. Ya bisa saja semua itu jadi jawaban, tapi bukan jawaban yang menjawab pertanyaannya. Matanya mulai lelah, pikirannya suntuk. Ia kembali membalikkan wajahnya menghadap ke depan, lalu menunduk.

Sret. Sret. Sret. Sret.

Bunyi kertas yang beradu dengan ujung pena masih tak berhenti. Sepasang malaikat masih sibuk mencatat dan mencatat. Onal kembali melirik ke kiri dan ke kanan dengan tatapan tajam.

"Mengesalkan sekali mereka, hanya sibuk mencatat dan mencatat. Berisiiik.."

Terlintas dalam benak Onal untuk menanyakan jawaban yang ia cari pada sepasang malaikat itu, tapi ia mengurungkan niatnya. Ia terlalu kesal, dan terlalu cepat putus harapan.

"Paling-paling mereka akan memberikan jawaban yang tidak aku cari."

Mencari jawaban?
Berarti ia sudah tahu jawabannya, hanya saja ia kehilangan.

"Lima belas menit lagi waktu habis. Yang sudah selesai bisa dikumpulkan kertas jawabannya. Periksa kembali nama dan nomor peserta ujiannya, ya!"

Beberapa kawan krasak-krusuk nyaris bersamaan. Ada yang melipat lembar soal, menempatkan alat tulis ke dalam kotaknya, lalu beranjak dari kursi, berjalan menuju meja pengawas untuk mengumpulkan lembar jawaban masing-masing.

Sepuluh menit kemudian, kelas sudah kosong sebelum waktunya. Menyisakan Onal seorang diri, tertunduk lesu.

"Lima menit lagi, ya!"

Onal menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Telinganya mulai sebal mendengar ujung pena yang menggores kertas. Sepasang malaikat sedang mencatat dan mencatat. Onal mencoba meredam suara itu, menutup kedua telinganya dengan sobekan kertas kotretan yang ia linting sampai berukuran pas dengan lubang telinganya, yang kemudian ia mampetkan. Tapi percuma, suara itu tak bisa diredam. Sret.sret.sret.

Waktu tinggal tiga menit lagi. Onal menjauhkan pandangannya ke luar kelas, menembus kaca jendela. Terlihat teman-teman sekelasnya sedang melakukan kegiatan pasca-ujian.

Ningsih, terlihat sedang sibuk melentikkan bulu matanya di balik cermin kecil yang menempel di tutup kotak bedak. Setelah dirasa cukup, ia beranjak dari duduknya, lantas masuk ke dalam mobil sedan mewah yang menunggu di depan gerbang sekolah. Ningsih cantik, roknya pendek. Onal sempat jatuh hati padanya, tapi tak jadi. Entah.

Aceng sedang sibuk merebut bola basket dari kuasa lawan bermainnya. Ia tampak bersemangat, seragamnya kleweran, ikat pinggang sudah tak sanggup menahan seragamnya dalam keadaan rapi. Aceng selalu berteriak penuh kemenangan saat bola berhasil direbut, atau berhasil mencetak tiga angka. Dan Aceng, akan berkelahi jika ia kalah, mencoba mencari kemenangan dengan jalan lain yang salah.

Johan, terlihat sedang asyik memainkan handphone-nya. Di belakangnya beberapa kawan lain ikut menonton layar dari handphone yang dipegang Johan.  Sesekali mereka tertawa, tersenyum, terbelalak, lalu menutupi apa yang mereka lakukan ketika sadar ada seorang guru yang lewat di depan mereka. Johan memang populer di sekolah, dia dijuluki Pangeran Trijipi.

Ada Adon yang baru selesai merokok di WC, ada Tika yang sedang dirayu Maman, dan banyak lagi. Riuh pasca-ujian. Mereka tampak senang.

Onal kembali tertunduk, menarik kembali pandangannya dari luar kelas. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, sepasang malaikat sedang mencatat dan mencatat. Sret.sret.sret.

Tenonenone noneeet..

Simfoni Beethoven yang dijadikan nada dering bel sekolah berbunyi memekakkan telinga, tanda bahwa waktu ujian harus selesai.

Pengawas melihat Onal, berharap Onal segera mengumpulkan lembar jawaban. Onal belum siap mengumpulkannya, ia takut, ia masih gamang, masih banyak keraguan di dalam hatinya yang muda.

Sial. Waktu habis. Teriak Onal dalam hati. Aku belum tahu jawabannya, meskipun aku tahu, aku belum mengerti.

"Sudah selesai?? Ayo kumpulkan!"

Sejenak Onal melirik pada pengawas, lalu tertunduk lagi.

Tak ada cara lain, mungkin ini satu-satunya cara yang masih mungkin dilakukan.

Onal menoleh ke kiri lalu ke kanan. Tak ada cara lain, ia akan bertanya pada sepasang malaikat itu. Onal merasa bodoh, tapi apa boleh buat. Ia harus tahu jawabannya sekarang, atau ia gagal dalam ujian. Pengawas mulai mendekat, sudah tak sabar ingin segera merebut lembar jawaban Onal. Onal cepat bertanya pada sepasang malaikat di sisi kiri dan sisi kanannya:

"Setelah ini, apa yang harus aku lakukan???"

Mendengar pertanyaan Onal, sepasang malaikat langsung menghentikan kegiatan mencatatnya, sejenak tertegun, lalu memandang Onal yang masih kebingungan. Ketiganya terdiam. Onal menunggu jawaban, namun kedua malaikat itu, sepasang malaikat itu kembali tenggelam dalam catatannya. Mereka mencatat dan mencatat. Sret. Sret. Sret. [can]



Senin, 06 Maret 2017

Ini Tentang Pria

"Aku kira
Beginilah nanti jadinya
kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros"

Katanya, menyuarakan sepenggal puisi Chairil Anwar yang kesepian, diikuti tawa renyah seraya menyalakan sebatang rokok dengan gaya sebelah bahu yang terangkat, ketika kami mengobrol tanpa tema, di tengah hari itu.

Aku belum terlalu lama mengenal pria berkacamata ini, disebut sangat mengenalnya pun tidak. Aku pertama kali melihat wajahnya di kedai Preanger, tempat ngopi dan ngeteh paling mujarab mengobati rutinitas hidup yang gini-gini aja, setidaknya kalau ngopi di sana hidup agak berubah menjadi gitu-gitu aja, ga gini-gini amat. Begitulah.

 Ia datang bersama kawan-kawannya, duduk mengelilingi meja kayu dekat pintu masuk, mengobrol dan sekali waktu ia beranjak ke warung seberang jalan, lalu kembali ke tempat ia duduk dengan sebatang rokok yang sudah terapit di antara bibirnya. Aku amati, ia kuat juga merokoknya. Setelah sebatang habis, tak lama kemudian rokok berikutnya menyusul untuk dibakar. Mungkin sedang mengobrol hal-hal yang menguras pikiran, aku kira. Yang ku ketahui kemudian, rokoknya tak pernah sama, terkadang Sampoerna Mild, kadang U Mild, kadang Sam Soe atau yang lainnya. Seakan-akan ia tak punya rokok favorit, tapi ia punya selera umum: Marlboro pas berpasangan dengan bir, kretek enak disandingkan dengan kopi, kebanyakan orang mengakui itu. Satu merek rokok tak lekat dengan dirinya, hal itu ditentukan oleh tebal tipisnya dompet, yang terpenting ada teman saat berpikir atau menulis, walau hanya berupa asap tembakau. Ia mengaku bahwa suatu tulisan bisa ia rampungkan ketika ada rokok, ketika tak ada rokok tampaknya Tuhan enggan membagikan ilham. Mungkin baginya, rokok adalah jembatan yang digunakan kata-kata untuk menyeberang dari suatu tempat, entah apa namanya, menuju pikirannya yang kemudian ia sambut dengan jari-jarinya.

Seperti halnya perkenalan-perkenalan lain, aku lupa kapan tepatnya perkenalan dengannya terjadi. Sudah pasti tanpa suatu upacara perjabatan tangan. Semua mengalir begitu saja, membicarakan hidup, buku, dan sastra. Ia banyak membaca buku, sering juga menulis. Dalam blognya, ratusan tulisan ia tampangkan, beberapa majalah dan surat kabar pernah memuat tulisan karyanya. Menulis baginya adalah soal arsip hidup, ia ingin merekam semua pengalaman hidupnya melalui tulisan. Ia mengaku tak bisa lagi menulis cerpen dengan tokoh-tokoh dan dongeng-dongeng di dalamnya, itu terlalu rumit. Ia lebih memilih esai daripada jenis tulisan lainnya.

Scripta Manent Verba Volant, ia sitat kalimat itu dari salah satu buku Muhidin. Buku yang turut andil mendukung suara hatinya untuk menekuni dunia baca-tulis dengan cita-cita luhur tradisi literasi. Membaca baginya bukan hanya untuk kesenangan, namun juga bahan untuk merumuskan apa yang bisa diserap oleh dirinya sendiri dan apa yang bisa dilakukan untuk orang-orang di sekitarnya. "Membaca ratusan buku menjadi omong kosong jika buku hanya diperlakukan sebagai objek wisata saja", akunya. Menulis baginya adalah hidup, sekaligus menghidupi apa dan siapa yang menginspirasi tulisannya.

Sambil lalu, aku pernah bertanya padanya, "Apakah kamu punya keinginan menulis sebuah buku, diterbitkan, dan nangkring di rak-rak toko buku?" Ia hanya menjawab singkat, "Tidak." Aku hanya tersenyum dan bertanya "mengapa" tanpa mengharapkan sebuah alasan.

Begitulah.

Seorang penulis yang mengibaratkan dirinya Ahasveros dan tidak ingin menulis sebuah buku adalah kesendirian yang damai. Sedangkan damai hanya nama sebuah apotek di Buah Batu, damai yang sebenarnya hanya ada di dalam pikiran. Dan ciri pikiran adalah tidak nyata, rapuh dan sementara. Bisa jadi Ahasveros tidak akan mengembara terlalu jauh, siapa yang tahu. [can]

Sabtu, 03 Desember 2016

Manda, Bunga Para Hama

Alkisah ada sekuntum bunga. Bukan bunga mawar juga bukan bunga-bunga penghias lain semacamnya. Ini bunga bernama latin Alamanda Thevetifolia, orang-orang mempermudah sebutannya menjadi Manda saja.

Bunga Manda, warna mahkotanya tak tentu berganti-ganti setiap hari, harumnya juga tak tentu kadang wangi sabun kadang wangi parfum, kadang juga wangi deodoran, bahkan pernah juga tak berbau sama sekali. Durinya tajam, tapi malu-malu. Mahkotanya akan menguncup tak mengenal waktu, mekarnya tiba-tiba tak terduga. Bunga ini rumit, sehingga para ahli bunga sulit mengambil kesimpulan dari penelitiannya. Sejauh ini, hanya satu hal yang mampu mereka kenali dari bunga rumit ini, yaitu hama-hama yang kerap mengerubutinya tak terhitung jumlahnya.

Setiap saat, hama-hama yang buruk rupa itu kerap mengerubungi, merayap di antara sela-sela kelopak, atau berdiam diri di antara duri-duri, ada juga yang membuat sarang persis di sebelah bunga Manda tumbuh. Entah apa yang membuat hama-hama itu betah berada di sekeliling bunga Manda, mungkin karena warna dan aromanya yang tak tentu, membuat hama-hama penasaran apa yang bisa mereka hisap dari bunga rumit ini.

Para ahli bunga khawatir, hama-hama akan mengganggu keberlangsungan hidup bunga Manda. Karena itu, mereka kerap menggunakan berbagai macam pestisida untuk mengusir hama-hama pergi. Alih-alih akan bersih dari hama, justru hama-hama itu malah bertambah banyak. Para ahli bunga menyerah, lagipula sepertinya bunga Manda tak terganggu dengan adanya hama-hama itu. Para ahli berasumsi bahwa bunga Manda hidup dari hama-hama, membentuk satu ikatan emosional yang tidak normal, inilah temuan baru di dunia flora bahwa bunga juga tidak mau kesepian.

Kabar tentang bunga Manda tersebar ke seluruh dunia, lalu sampai juga di telinga seorang ahli bunga dari Kampung Gekbrong di pedalaman Cipeuyeum bernama Profesor Cingcaleupeu master of flower. Ia sungguh tertarik ihwal fakta-fakta yang menyelimuti bunga Manda, dan berencana untuk mendatangi langsung ke tempat bunga itu tumbuh.

Singkat cerita, setelah melalui berbagai macam rintangan di perjalanan dan gonta-ganti angkutan, sang profesor tiba di lokasi bunga Manda. Ternyata lokasi itu sudah menjadi tempat wisata, para petani beralih profesi jadi tukang parkir, penjaja makanan dan membuka rumah makan. Untuk melihat bunga Manda dari dekat harus membeli karcis terlebih dahulu, tiga ribu lima ratus rupiah per jam, dengan aturan tak boleh menyentuh dan tak boleh bawa makanan dan minuman dari luar. Bunga Manda dan hama-hamanya dipagari kawat berduri, dipisahkan dari lingkungan sekitarnya, dijadikan kepentingan, diobjekkan sebagai pemuas rasa keingintahuan.

Kenyataan tersebut tidak membuat niat Prof. Cingcaleupeu untuk meneliti bunga Manda surut. Memang agak tidak nyaman, tetapi atas nama ilmu pengetahuan ia tak patah arang. Berminggu-minggu mondok di rumah warga sekitar, agar setiap hari bisa mengungkap misteri di balik bunga Manda.

Sudah hampir tiga bulan ia meneliti bunga Manda, tapi tak membuahkan satupun kesimpulan. Kertas laporan penelitiannya masih putih bersih. Ia bingung, lalu mengambil pensil tumpul dan mulai menuliskan sesuatu. "Pada akhirnya, mau tak mau setiap bunga yang tumbuh pasti akan layu." Prof. Cingcaleupeu segera berkemas, lantas pergi mendapati dirinya yang klise. Di perjalanan pulang, ia justru memikirkan bagaimana nasib para hama nanti. [can]